SuaraDuniaNusantara.net — Ketahanan pangan Indonesia dibangun di atas sistem beras-sentris yang membuat uwi dan pangan lokal tidak memperoleh peran strategis.
Sejak kemerdekaan, negara membangun pangan sebagai pilar stabilitas. Beras dipilih sebagai makanan pokok nasional dan simbol kemakmuran.
Pilihan tersebut berdampak pada pangan lain. Umbi-umbian seperti uwi (Dioscorea spp.) yang telah lama dikonsumsi masyarakat Nusantara tidak masuk dalam arsitektur kebijakan pangan nasional.
Jejak Penjajahan dalam Sistem Pangan
Pada masa penjajahan Belanda, beras dijadikan komoditas utama untuk mengatur produksi dan distribusi. Struktur ini diwarisi pascakemerdekaan.
Penguatan terjadi pada era Orde Baru melalui Revolusi Hijau, dengan fokus kebijakan pada padi.
Dampak terhadap Pangan Lokal
Uwi tidak memperoleh dukungan struktural. Tidak tersedia harga acuan nasional, jaminan pasar, atau pengembangan varietas berkelanjutan.
Sebaliknya, impor gandum terus meningkat untuk menopang industri pangan berbasis terigu.
Ketergantungan ini meningkatkan kerentanan terhadap gangguan global dan perubahan iklim.
Perspektif Ketahanan dan Diaspora
Di berbagai wilayah Nusantara dan komunitas diaspora, pangan lokal menjadi simbol ketahanan dan identitas. Namun kebijakan nasional belum mengintegrasikan potensi tersebut.
Kasus uwi menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal volume produksi, tetapi juga keberagaman sumber pangan.
Arah kebijakan pangan nasional akan menentukan apakah kekayaan pangan lokal menjadi fondasi kedaulatan atau sekadar catatan sejarah.***
